Pengertian Maf’ul Mutlaq, Contoh dan Jenis-Jenisnya

Dalam ilmu nahwu, ada beberapa istilah yang perlu dipahami secara menyeluruh. Sebagian dari kamu mungkin sudah ada yang mengenal maf’ul bih. Selain itu, ada juga maf’ul mutlaq yang sekilas ada kemiripan dengan maf’ul bih. 

Bagi kamu yang masih awam maka perlu memahami dulu pengertian, contoh dan jenis-jenis dari maf’ul mutlaq. Dengan cara itu, kamu akan mampu mempelajari bahasa Arab dengan sempurna dan memahami makna dari setiap kalimatnya. 

Read More

Pengertian Maf’ul Mutlaq

االْمَصْدَرُ هُوَ الْإِسْمُ الْمَنْصُوْبُ الَّذِيْ يَجِيْءُ ثَالِثًا فِيْ تَصْرِيْفِ الْفِعْلِ

Dari kalimat berbahasa Arab itu dijelaskan bahwa (masdar) maf’ul mutlaq adalah isim yang menggunakan i’rab manshub. Selain itu, kedudukan dari maf’ul tersebut ada di urutan ketiga dan tashrif fi’il (kata kerja). 

Pengertian di atas dinukil dari kitab Jurumiyah karangan Abu Abdillah Muhammad bin Muhammad bin Dawud Ash-Shanhaji. Selain itu, maf’ul mutlaq ini juga bagian dari isim masdar. 

Selain makna di atas, maf’ul mutlaq adalah isim yang asalnya dari lafadz fi’il. Fungsi dari lafadz itu adalah untuk menjelaskan atau menguatkan bilangan atau sebagai penjelas dari sifatnya. 

Lalu, maf’ul mutlaq ada juga yang menyebutkan jika termasuk pada isim manshub dari lafadz fi’il (masdar). Fungsinya juga hampir sama, yakni sebagai penjelas atau penegasan dari jumlah atau jenis perbuatannya. 

Contoh Maf’ul Mutlaq

Ada beberapa contoh dari maf’ul mutlaq agar bisa dipahami secara menyeluruh, yakni:

  • ضَرَبْتُ كَلْبًا ضَرْبَتَيْنِ (Aku memukul Anjing dengan dua kali pukulan), Kalimat di atas merupakan kata kerja sempurna yang di tashrif. 
  • عَحِبْتُ مِنْ ضَرْبِكَ ضَرْبًا شَدِيْدًا (Aku terkejut atas pukulanmu dengan pukulan yang keras). Kalimat ini tergolong masdar.
  • أنَا ضَارِبُ زَيْدٍ ضرْبَ أبِيْهِ (Aku memukul Zaid seperti pukulan ayahnya). Sementara contoh ketiga ini masuk dalam isim sifat. 

Macam-Macam Maf’ul Mutlaq

Setelah memahami contoh di atas, maf’ul mutlaq juga terdiri dari beberapa macam, diantaranya:

Maf’ul mutlak lafdzi

Jenis maf’ul ini berasal dari akar kata yang memiliki kesamaan dari fi’ilnya. Contoh dari maf’ul tersebut adalah:

  • تَبْكِيْ بُكَاءًا (kamu benar-benar menangis)
  • يَقْطُرُ مِنْهَا شَرَابٌ حُلْوٌ قَطْرًا (Minuman manis benar-benar menetes darinya)
  • قَتَلْتُهُ قَتْلاً saya benar-benar telah membunuh Zaid.

Pada contoh ketiga, yakni pada lafadz قَتْلاً sebagai  masdar sekaligus menjadi maf’ul muthlaq. Jika diperhatikan lafadz itu ada kemiripan dengan lafadz fi’ilnya  قَتَلَ . Karena kemiripan itulah maka, kalimat itu disebut sebagai maf’ul mutlaq lafdzi

Maf’ul mutlak maknawi

Jika sebelumnya sama, maf’ul satu ini ada perbedaaan antara masdar dan fi’il pada kalimatnya. Contoh kalimatnya:

  • تَبْكِيْ نَجِيًّا (kamu benar-benar menangis)
  • جَلَسْتُ قُعُوْدًا (Aku benar-benar duduk)
  • جَلَسْتُ قُعُوْدًا saya duduk dengan sesungguhnya
  • قُمْتُ وُقُوْفًا saya berdiri dengan sesungguhnya

Pada contoh yang ketiga, masdarMasdar قُعُوْدًا yang sebagai maf’ul muthlaq dan memiliki arti  sama dengan artinya  fi’ilnya, lafadz جَلَسْتُ (maknanya duduk). Namun, lafadz yang digunakan berbeda. Hal ini juga berlaku pada contoh ketiga antara lafadz وُقُوْفًا dengan قُمْتُ, sehingga, disebut  masdar maknawi.

Fungsi Maf’ul Mutlaq

Setelah mengetahui macam-macamnya, maf’ul mutlaq memiliki beberapa fungsi, diantaranya sebagai berikut:

Penegas Perbuatan

Untuk memahami lebih mendalam, kamu bisa perhatikan contoh berikut:

حَفِظْتُ الدَّرْسَ حِفْظًا (Aku sudah  menghafal pelajaran tersebut  dengan sangat hafal)

Lafadz حِفْظًا termasuk isim yang bisa dibaca nashob dan itu ditandai dengan adanya fathah. Sehingga, kata itu menjadi maf’ul mutlaq dan termasuk isim mufrad juga. 

Bila diperhatikan, lafadz itu juga sebagai penegas perbuatan. 

Sebab, lafadz ini termasuk isim yang berasal dari fi’il atau disebut isim masdar. Dengan demikian, untuk menciptakan adanya maf’ul bih pada suatu fi’il bisa dengan mengganti fi’il menjadi isim masdar. Berikut salah satu contohnya:

  •  حَفِظْتُ الدَّرْسَ حِفْظاً (Saya menghapal latihan  dengan sesungguhnya)
  • ضربْتُهٌ ضرباً شديداً (Saya memukulnya dengan pukulan keras)
  • أكلْتُ أكْلاً كثيراً (Saya makan dengan banyak)
  • ذَهَبْتُ إِلَى الْمَدْرَسَةِ ذَهْبًا (Aku benar-benar pergi ke sekolah)
  • قَعَدْتُ قُعُوْدًا (Aku benar-benar duduk)
  • أَكَلْتُ الْفَاكِهَةَ أَكْلًا (Aku benar-benar makan buah)
  • شَرِبْتُ الْقَهْوَةَ شُرْبًا (Aku benar-benar minum kopi)

Menjelaskan Jumlah

Untuk fungsi menjelaskan jumlah, bisa dilihat contoh berikut

ضَرَبْتُهُ ضَرْبَةً (Aku memukulnya dengan satu kali pukulan)

Lafadz ضَرْبَةً termasuk dalam kategori isim manshub dengan menggunakan fathah dan berbentuk isim mufrad. Pada kalimat ini, maf’ul mutlaq sebagai penjelas bilangan dari suatu perbuatan. Isim masdar pada kalimat itu bisa lebih dari satu dan ini banyak dipelajari dalam ilmu shorof. 

Sementara, ضرب tergolong isim masdar yang lebih dari satu. Fungsinya bisa serba guna baik untuk penjelas bilangan, tindakan dalam susunan suatu. Ada beberapa bentuk isim masdar dari suatu fi’il dan berikut beberapa contohnya:

  • ضَرَبْتُ الكَلْبَ ثَلاَثَ ضَرَبَاتٍ (Saya memukul anjing sejumlah  tiga kali)
  • ضربْتُهُ ضربةً (Saya memukulnya satu kali pukulan)
  • أكلْتُ أكلَةً (Saya makan satu kali suap)
  • تَغَيَّرَ لَوْنُ الْمَاءِ تَغَيُّرَيْنِ (Warna air berubah 2 kali)
  • ضَرَبْتُ زَيْدًا ضَرْبَةً وَاحِدَةً (Aku memukul zaid sekali pukulan)
  • صَاحَ فَوْزَانُ صَيْحَةً وَاحِدَةً (Fauzan berteriak sekali teriakan)

Penjelas Sifat atau Jenisnya

مَنْ خَرَجَ مِنْ السُّلْطَانِ شِبْرًا مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

“Barang siapa yang keluar  dari ketaatan Seorang pemimpin sejengkal saja, lantas  ia mati,maka matinya laksana  kematian jahiliyah”.

Pada kalimat di atas, lafadz مِيتَةً ini dibaca nashob. Lafadz ini juga berfungsi sebagai penjelas dari jenis dari kata kerja yang telah digunakan, yakni مَاتَ. Pada kondisi ini, maf’ul mutlaq juga harus diikuti oleh na’at. 

Dengan demikian, maf’ul mutlaq tersebut harus selalu diikuti oleh sifat atau jenis dan disandarkan pada isim lain. Untuk lebih jelas, berikut contohnya:

  • جَلَسْتُ جِلْسَةَ العُلَمآءِ (Saya duduk seperti  duduknya semua  ulama)
  • مَشَيْتُ مَشْيًا بُطْئًا (Aku berjalan pelan-pelan)
  • اِجْتَهَدْتُ فِيْ الدِّرَاسَةِ اِجْتِهَادًا شَدِيْدًا (Aku sangat bersungguh sungguh dalam belajar)
  • تُمْطِرُ السَّمَاءُ اِمْطَارًا غَزِيْرًا (Langit turun hujan dengan deras)
  • قَرَأْتُ الْكِتَابَةَ قِرَاءَةً سَرِيْعًا (Aku membaca buku dengan cepat)

Hukum Maf’ul Mutlaq

Secara umum, hukum dari maf’ul mutlaq itu terbagi menjadi tiga bagian, diantaranya sebagai berikut:

Wajib Nashob

Setiap kalimat yang ada pada maf’ul tersebut harus dibaca nashob, berikut contohnya:

رأيتُهُ مُسرعاً إسراعاً عظيماً

Jatuh Sesuai Amil

Dalam maf’ul mutlaq, kalimatnya harus jatuh sesudah amil dan fungsinya untuk menguatkan. Jika menyatakan bilangan atau jenis maka bisa jatuh sesudah atau sebelum amil. Contohnya:

 اجتهدتَ اجتهاداً حسَناً

Amil pada Maf’ul Mutlaq Boleh Dibuang

Amil itu boleh dibuang jika amil mutlaqnya baik yang jenis atau bilangan itu ada hubungan dengan kalimatnya. Berikut contohnya:

اجتهاداً حسَناً

Lafadz “ اجتهاداً حسَناً “ adalah jawaban dari pertanyaan “كيف اجتهدت”

Jadi maf’ul mutlaq adalah isim yang telah menggunakan i’rab manshub. Fungsi dari maf’ul ini diantaranya sebagai penegas suatu perbuatan. Selain itu, maf’ul juga sebagai penjelas akan suatu sifat atau jumlah dari suatu kalimat. 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *