Pengertian isim Masdar, Jenis dan Contoh-Contohnya

Dalam mempelajari kitab-kitab kuning atau kajian keislaman maka kamu juga perlu mengetahui terkait masdar. Secara umum, masdar dalam bahasa Arab itu terbagi menjadi dua bagian, yakni Fi’il dan Isim Masdar. 

Masdar memang tidak masuk dalam informasi subjek, objek, tempat atau waktu dari suatu kejadian. Namun, peranan dari isim masdar ini sangatlah penting karena lebih banyak memfokuskan akan perbuatan atau tindakan. 

Read More

Pengertian Isim Masdar

Sebelum membahas, Isim Masdar maka perlu dipahami juga terkait masdar itu sendiri. Dalam bahasa Arab, Masdar merupakan kata kerja yang masih belum mengalami perubahan baik karena pelaku atau waktu. Ciri dari Masdar ini diantaranya memiliki kata kerja dasar. 

Jika dikaitkan dalam bahasa Indonesia, Masdar bisa dilihat dari perbedaan antara memberi dan pemberian. Kata ‘pemberian’ itulah yang disebut dengan kata benda yang masuk dalam kategori masdar. 

Selain Masdar, di dalam ilmu shorof juga ada istilah Isim atau kata benda. Sehingga jika digabungkan, Isim Masdar adalah kata dasar yang didalamnya ada berbagai bentuk kata dengan jumlah yang banyak. Secara istilah, Isim Masdar lebih banyak merujuk pada kejadian baik dengan atau tanpa keterangan waktu. 

Contohnya:

سَمْعٌ (Pendengaran)

ضَرْبٌ (Pukulan)

زِرَاعَةٌ (Pertanian)

بُكَاءٌ (Tangisan)

Fungsi Masdar

Secara umum, Masdar memiliki beberapa fungsi penting di dalam ilmu nahwu, diantaranya sebagai berikut:

Memperjelas Asal Kata

Dalam memperjelas dari suatu kata maka perlu menggunakan adanya tashrif. Tujuannya agar penggunaan kata itu tidak salah makna dalam mufradatnya. Misalnya, kamu ingin menjelaskan kata ضَرَبُ, maka perlu adanya tashrif menjadi ضَرَبُ – يَضْرِبُ – ضَرَبَا (memukul). 

Deretan tashrif di atas jika diurutkan adalah fi’il madhi (ضَرَبُ ) – fi’il mudhori (يَضْرِبُ) – masdar/isim masdar (ضَرَبَا). Dengan demikian, kata ضَرَبَا berasal dari kata dasar ضَرَبُ

. Dengan cara di atas maka bisa meminimalisir adanya kesalahan dalam memahami makna dari suatu kata. 

Pengganti Fi’il

Selain menjelaskan asal kata, Isim Masdar juga bisa juga sebagai pengganti fi’il di dalam struktur kalimat. Dengan kata lain, mashar bisa juga berperan sebagai pengganti fungsi kata kerja. 

Umumnya dalam proses identifikasi, kata tersebut diberi tambahan huruf “ma” (مَا) jika menunjukkan waktu sekarang. Namun, untuk menunjukkan waktu lampau atau yang akan datang maka menggunakan huruf “an” (اَنْ). Dengan tambahan huruf tersebut maka suatu perbuatan atau tindakan tidak perlu memperinci informasi waktu yang lebih spesifik. 

Contoh Isim Masdar di Dalam Al-Qur’an

Di dalam Al-Qur’an, Isim Masdar bisa diketahui di beberapa surat, diantaranya sebagai berikut:

Surat Al Fath Ayat 1

اِنَّا فَتَحۡنَا لَكَ فَتۡحًا مُّبِيۡنًا

Inna fatakhna laka fathan mubinaa

kata fatakhna (فَتۡحًا) adalah isim masdar dengan wazan (pola kata) fatakha-yaftakhu-fatkhan (فَتَحَ – يَفْتَحُ – فَتْحًا).

Surat Al Hajj Ayat 58

وَالَّذِيۡنَ هَاجَرُوۡا فِىۡ سَبِيۡلِ اللّٰهِ ثُمَّ قُتِلُوۡۤا اَوۡ مَاتُوۡا لَيَرۡزُقَنَّهُمُ اللّٰهُ رِزۡقًا حَسَنًاؕ

Walladziina hajaruu fi sabiilillahi tsumma qutiluu au matuu layarzuqonnahumullahu rizqon hasanan

Kata rizqon (رِزۡقًا) adalah masdar dengan wazan khasana-yakhsunu-khasanan (حسن – يحسن – حسنا).

Surat Al Kahfi Ayat 30

اِنَّ الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اِنَّا لَا نُضِيۡعُ اَجۡرَ مَنۡ اَحۡسَنَ عَمَلًا

Inna ladziina aamanuu wa ‘amilush sholkhaati inna la nudhiiu ajron man aksana ‘amalan

Lafadz ‘amalan (عَمَلًا) adalah masdar dengani wazan ‘amala-ya’malu-‘amalan (عَمَلَ يعمل عَمَلاً).

Jenis Masdar Berdasarkan Tambahan Hurufnya

Isim Masdar jika dilihat dari tambahan hurufnya terdiri dari berbagai jenis dan berikut ulasannya:

Masdar Ashli

Sesuai dengan namanya, Masdar jenis ini tergolong murni atau tanpa tambahan kata apapun. Untuk memperjelas, berikut contoh dari Masdar Ashli:

  • ضَرْباً (pukulan)
  • فَتْحًا (buka)

Masdar Mudhof

Masdar jenis ini sering digunakan untuk menggambarkan suatu perbuatan. Ciri-ciri dari masdar ini selalu menggunakan tambahan huruf  مَا atau اَنْ pada awal katanya. Berikut 3 contoh masdarnya:

  • يَسُرُنِيْ أَدَاَؤُكَ الْوَجِبَ (Pelaksanaan kewajibanmu membuatku gembira)
  • يَسُرُنِيْ أَنْ تُؤَدِي الْوَاجِبَ (Pelaksanaan kewajibanmu [dulu] membuatku gembira)
  • يَسُرُنِيْ مَا تُؤَدِي الْوَاجِبَ (Pelaksanaan kewajibanmu [sekarang] membuatku gembira)
  • مصاحبة المرء العقلاء الزم و مجانبة المرء السفهاء 
  • بني الاسلام على خمس شهدة ان لا اله الا الله و ان محمدا رسول الله و اقام الصلاة و ايتاء الزكاة و صوم رمضان وحخ البيت من الاستطاع اليه سبيل

Masdar Manwun

Disebut masdar manwun jika pada akhir katanya menggunakan harakat tanwin. Selain itu, masdar ini juga jauh mendekati fi’ilnya dan jarang digunakan di dalam suatu kalimat, contohnya:

  • أَوْ إِطْعَامٌ فِي يَوْمٍ ذِيْ مَسْغَبَةٍ (Atau memberi makan pada hari kelaparan).

Masdar dengan Alif Lam

Jenis masdar ini lebih banyak didahului dengan dua huruf, yakni alif dan lam. Umumnya, masdar ini juga jarang digunakan untuk percakapan sehari-hari atau di kegiatan formal. Contohnya:

  • اَلْمَجِدُ سَرِيْعُ الْإِنْجَازِ أَعْمَالُهُ (Orang yang giat dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan sangat cepat).
  • قوله تعالى: او اتعم في يوم ذى مسغبة. يتيما ذى مقربة. 
  • بضرب ب السيوف رأوس قوم # أذلنا هامهن عن المقيل                           

Masdar Mimi

Masdar satu ini sesuai dengan namanya, yakni selalu diawali dengan mim ziyadah. Selain itu, kalimatnya juga menggunakan wazan fi’il tsulatsi (مَفْعَل dan مَفْعِل), contohnya:

  • مَوْعِد (janji)
  • مَضرَب (pukulan)

Masdar Shina’i

Jenis Masdar yang menggunakan kata dasar dengan kalimat apapun. Namun, kalimatnya menggunakan tambahan huruf  يّ dan ة di bagian akhir katanya. Berikut contoh Masdar Shina’i:

  • الإنسانية

Masdar Berdasarkan Kedekatannya dengan Fi’il

Selain dengan tambahan huruf, ada juga masdar yang berdasarkan kedekatan dengan fi’il dan berikut ulasannya:

Masdar Ma’nawi

Jenis Masdar ini memiliki lafadz yang berbeda, namun dalam hal makna memiliki kesamaan dengan fi’ilnya. Contoh:

جَلَسْتُ قُعُوْدًا

قُعُوْدًا (Masdar ma’nawi) mempunyai makna yang sama dengan kata sebelumnya (جَلَسَ.) yang juga berupa fi’il. 

Masdar Lafzi

Masdar ini memiliki ciri khas yakni ada kesamaan yang sangat tinggi dalam hal lafadz fi’ilnya. Contoh: 

قَتَلْتُهُ قَتْلاً

قَتْلاً (Masdar lafzi) punya kemiripan dengan lafadz fi’il-nya (قَتَلَ.).

Masdar Berdasarkan Pada Indikasinya

Selain yang disebutkan di atas, ada juga jenis masdar yang dilihat dari indikasinya, yakni:

Masdar Marrah

Jenis Masdar ini memiliki kata dasar yang bisa diulang beberapa kali dalam suatu perbuatan. Selain itu, wazan yang digunakan pada masdar tersebut adalah wazan tsulasi فَعْلَة. Contohnya:

ضَرْبَة(satu kali pukul).

Masdar Hai’ah

Hai’ah adalah kata dasar yang bisa dijadikan sebagai indikasi dari suatu aktivitas baik dari sisi format atau tekniknya. Selain itu, masdar ini juga masuk dalam wazan tsulatsi-nya فِعْلَة .Selain wazan tersebut, belum bisa disebut masdar hai’ah. contohnya:

مِشْيَة(cara berjalan)

Jadi Isim Masdar adalah kata dasar yang jumlahnya cukup banyak dan bisa dalam bentuk kata apapun. Selain itu, isim ini juga lebih banyak digunakan dalam suatu kejadian baik dengan atau tanpa keterangan waktu. Untuk fungsinya, Isim Masdar bisa juga sebagai pengganti fi’il dan memperjelas asal katanya. 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *