Pengertian Isim Alam, Contoh dan Pembagiannya Dalam Ilmu Nahwu

Bagi kamu yang ingin memperdalam ilmu bahasa Arab maka perlu memahami ilmu nahwu dan shorof. Dalam mempelajari itu, kamu juga perlu belajar terkait berbagai isim, diantaranya isim alam. 

Jenis isim ini terbagi menjadi beberapa bagian baik dari sisi bentuk, penggunaan dan asal-usulnya. Untuk memahami setiap bagian tersebut, nantinya akan diberikan beberapa contoh yang bisa kamu pelajari sendiri. 

Read More

Apa itu Isim Alam?

Di dalam kitabnya, Qawa’id Allu Ghotul ‘Arabiyah, isim alam adalah isim yang menunjukkan adanya tempat, individu, atau wujud tertentu. Sehingga, isim ini berfungsi untuk menyebutkan nama tempat, orang seperti kota, negara atau bahkan benda tertentu. 

Nama lain dari isim alam, sering juga disebut sebagai isim ma’rifat. Dikatakan demikian karena isim ini menunjukkan sesuatu yang sifatnya khusus. Contohnya seperti:

زَيْدٌ

Lafadz di atas menunjukkan adanya anak atau orang yang lebih khusus dan namanya Zaid. Jika ditelaah, isim di atas tidak mendapatkan imbuhan seperti alif lam. Imbuhan itu tidak dibutuhkan karena isim alam tidak perlu adanya perubahan kalimat. 

Pembagian Isim Alat Dari Sisi Bentuknya:

Jika dilihat dari sisi bentuknya, isim alam terbagi menjadi beberapa bagian, diantaranya:

Isim Alam Mufrad

Sesuai dengan namanya, isim alam ini sifatnya tunggal atau tidak murakkab, berikut contohnya:

  • أَحْمَدُ
  • سَلِيْمٌ

Dari contoh itu, isim alam ini tidak tersusun dari dua kata atau lebih. Sehingga untuk isim tasniyah atau jama’ yang dijadikan nama juga termasuk alam mufrad. Contohnya nama seseorang, seperti ‘حَسَنَانِ’ atau ‘عَابِدُوْنَ’.

Alam Murakkab Idlafiy 

Disebut isim alam murakkab idlafiy jika kalimat didalamnya tersusun oleh mudhlof dan mudlof ilaih. contohnya:

  • عَبْدُ اللّٰهِ
  • فَتْحُ الرَّحْمٰنِ

Alam Murakkab Mazjiy 

Sesuai dengan namanya, jenis isim alam ini, kalimatnya tersusun dari murakkab mazjiy. Contoh:

  • بَعْلَبَكَّ
  • سِيْبَوَيْهِ

Alam Murakkab Isnadiy 

Isim alam murakkab ini tersusun dari fi’il, fa’il dan maf’ul-nya dari khabar dan mubtada’. Berikut contohnya:

  • جَادَ الْحَقُّ (nama laki-laki)
  • شَابَ قَرْنَاهَا (nama perempuan)

Pembagian Isim Alam dari Sisi Penggunaannya

Isim alam yang jika dilihat dari penggunaannya terbagi menjadi tiga bagian, diantaranya:

Al-Alam al-Ismi (الْعَلَمُ الْإِسْمِ)

Jenis isim yang berupa nama yang sejak awal sudah ditentukan untuk sesuatu atau seseorang tertentu. Hal ini sama saja dengan ungkapan akan pujian seperti ‘سَعِيْدٌ’ atau ejekan ‘حَنْظَلَةٌ’. Selain itu, Alam isim bisa juga tidak berupa ejekan atau pujian, seperti ‘زَيْدٌ’ dan ‘عَمْرٌو’. 

Lalu, isim alam juga berlaku untuk lafadz yang diawali oleh ab (أَبٌ) atau umm (أُمٌّ) ataupun bukan keduanya. Dengan demikian, isim ini bisa digunakan untuk nama asli, nama pokok seseorang ataupun yang pertama kali. 

Al-Alam al-Kuniyah (الْعَلَمُ الْكُنِيَةُ)

Jenis isim alam ini berlaku kedua setelah adanya alam isim. Selain itu, ciri khas dari alam ini selalu diawali dengan dua huruf, yakni ab (أَبٌ) atau umm (أُمٌّ). Contoh:

  • أَبُوْ هُرَيْرَةَ
  • أُمُّ كُلْثُوْمَ

Al-Alam al-Laqob (الْعَلَمُ اللَّقَبُ)

Jenis alam ini berlaku setelah alam kuniyah dan umumnya berupa ekspresi pujian seperti ‘الرَّشِيْدُ’ dan ‘زَيْنُ الْعَابِدِيْنَ’ atau ejekan sebagaimana ‘الْأَعْشَى’ (makna dasarnya ‘yang lemah penglihatannya’) atau ‘الشَّنْفَرَى’ (makna dasarnya ‘yang besar dua bibirnya’).

Selain itu, jenis alam ini kerap digunakan untuk menunjukkan adanya kabilah, kota, nisbat keluarga, ataupun suatu negara. Berikut contoh lengkapnya :الْهَاشِمِيّ’, ‘التَّمِيْمِيُّ’,  ‘الْبَغْدَادِيُّ’, dan ‘الْمِصْرِيّ’.

Secara umum, ketiga isim ini seharusnya memang berurutan. Namun, pada suatu kondisi bisa juga alam isim dan kuniyah digunakan sekaligus untuk nama seseorang. Untuk itu, ada beberapa hukum tertentu jika isim alam, kuniyah dan laqob tidak berurutan. 

Hukum Isim, Kuniyah dan Lakob

Ada beberapa ketentuan hukum untuk isim, kuniyah dan laqob, berikut ulasan selengkapnya:

Isim dan Laqob Satu Kalimat

Bila ada isim dan laqob dalam satu kalimat maka isim harus lebih didahulukan, contohnya:

هَارُوْنُ الرَّشِيْد

أُوَيْسٌ الْقَرْنِيُّ

Kuniyah dan ‘Alam Lain

Bila ada kuniyah dan ‘alam lain maka bebas dalam hal aturan untuk proses pengurutannya:

أَبُوْ حَفْصٍ عُمَرُ

عُمَرُ أَبُوْ حَفْصٍ

Musamma dan Disebutkan Dua ‘Alam

Bila ada satu musamma (seseorang) yang disebutkan dua ‘alamnya, maka keduanya harus mufrad. Lalu, untuk ‘alam yang pertama di idlafah ke ‘alam yang kedua. Contoh: 

هٰذَا خَالِدُ تَمِيْمٍ

Selain itu, kamu bisa juga mengikutkan i’rab ‘alam kedua ke i’rab yang pertama sebagai athaf bayan atau badal. Contoh: 

هٰذَا خَالِدٌ تَمِيْمٌ

Namun, jika ‘alam pertama menggunakan al (ال), atau ‘alam yang kedua asalnya adalah al (ال) maka wajib mengikutkan i’rabnya atau tidak boleh di idlafah. Contoh: 

  • هٰذَا الْحَارِثُ زَيْدٌ
  • رَحِمَ اللّٰهُ هَارُوْنَ الرَّشِيْدَ
  • كَانَ حَاتِمٌ الطَّائِيُّ مَشْهُوْرًا بِالْكِرَمِ

Berbeda halnya jika kedua ‘alam bentuknya murakkab. Jika demikian maka salah satunya harus berbentuk mufrad dan i’rab ‘alam yang kedua wajib diikutkan pada ‘alam yang pertama. Contoh:

  • هٰذَا أَبُوْ عَبْدِ اللّٰهِ مُحَمَّدٌ
  • رَأَيْتُ أَبَا عَبْدِ اللّٰهِ مُحَمَّدًا
  • مَرَرْتُ بِأَبِيْ عَبْدِ اللّٰهِ مُحَمَّدٍ
  • هٰذَا عَلِيٌّ زَيْنُ الْعَابِدِيْنَ
  • رَأَيْتُ عَلِيًّا زَيْنَ الْعَابِدِيْنَ
  • مَرَرْتُ بِعَلِيٍّ زَيْنِ الْعَابِدِيْنَ
  • هٰذَا عَبْدُ اللّٰهِ عَلَمُ الدِّيْنِ
  • رَأَيْتُ عَبْدَ اللّٰهِ عَلَمَ الدِّيْنِ
  • مَرَرْتُ بِعَبْدِ اللّٰهِ عَلَمَ الدِّيْنِ

Pembagian Isim ‘Alam Dari Segi Kekhususannya

Bila dilihat dari segi kekhususannya, Isim ‘alam terbagi menjadi beberapa bagian dan berikut ulasannya:

‘Alam Syakhsh (عَلَمُ الشَّخْصِ/الْعَلَمُ الشَّخْصِيُّ)

‘Alam syakhsh atau ‘alam syakhshi adalah ‘alam yang lebih banyak dikhususkan dari sisi peletakan per individunya. Dengan demikian, individu sejenis selain yang disebutkan tidak termasuk dalam ‘Alam syakhsh

Contohnya : 

‘خَالِدٌ’

‘سَعِيْدٌ’

 ‘سُعَادٌ’, 

Jika ada orang lain yang punya ‘alam yang sama itu tidak menjadi masalah. Sebab, kesamaan antara ‘alam yang satu dengan yang disebutkan di atas termasuk dasar dari kecocokan atau bukan dari penetapannya. 

Alam Jins (عَلَمُ الْجِنْسِ/الْعَلَمُ الْجِنْسِيُّ)

‘Alam jins atau ‘alam jinsiy adalah ‘alam yang didalamnya sudah mencakup semua jenis tanpa adanya kehususan pada individu tertentu. Contoh : 

  • أُسَامَةُ (Nama bagi singa)
  • أَبُوْ جَعْدَةَ (Nama bagi serigala)
  • كِسْرَى (Nama bagi orang yang merajai Persia)
  • قَيْصَرُ (Nama bagi orang yang merajai Romawi)
  • خَاقَانُ (Nama bagi orang yang merajai Turki)
  • تُبَّعٌ (Nama bagi orang yang merajai Yaman)
  • النَّجَاشِيْ (Nama bagi orang yang merajai Habasyah)
  • فِرْعَوْنُ (Nama bagi orang yang merajai Mesir kuno)
  • الْعَزِيْزُ (Nama bagi orang yang merajai Mesir)
  • ثُعَالَةُ (Nama bagi rubah)
  • ذُؤَالَةُ (Nama bagi serigala)
  • أُمُّ عِرْيَطٍ (Nama bagi kalajengking)
  • أُمُّ عَامِرٍ (Nama bagi kuda cepat)
  • أَبُو الْحَارِثِ (Nama bagi singa)

Jadi isim ‘alam adalah suatu isim yang secara khusus menyebutkan tempat, nama, wujud, kota atau yang lain. Jenis isim ini terbagi menjadi beberapa bagian baik dari sisi bentuk, kekhususan atau penggunaannya. 

Selain itu, isim ini juga sering disebut sebagai isim ma’rifat. Sebab, dalam isim ini penyebutan akan tempat, wujud atau orangnya dilakukan secara khusus atau bukan secara umum seperti isim nakirah. 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *