Pembagian I’rab dan Pengertiannya Dalam Ilmu Nahwu

Di dalam bahasa Arab, beberapa tata bahasanya juga banyak menyinggung masalah harokat pada suatu kata. Misalnya, harakat yang ada di akhir huruf itu sering disebut sebagai i’rab. 

Pembagian i’rab ini sebenarnya cukup banyak dan bagi yang akan mendalami ilmu bahasa Arab maka hal ini perlu dipahami. Namun, dalam mempelajarinya perlu dipahami dulu pengertian dan beberapa contohnya

Read More

Apa itu I’rab?

I’rab adalah perubahan dari suatu lafadz baik dikira-kira atau secara lafadz. Ini terjadi karena di dalamnya ada beberapa perbedaan ‘amil yang masuk ke dalam suatu kalimat. 

Bentuk perubahannya bisa dari akhir kata, misalnya kata zaidun menjadi zaidin atau zaidan. Selain itu, perubahannya bisa berupa tulisan yang bentuknya hanya dikira-kira saja, seperti الْفَتَى . Dengan demikian, i’rab hanya berfokus pada perubahan lafadz yang ada di akhir. 

Pembagian I’rab Dalam Ilmu Nahwu

Secara umum, i’rab terbagi menjadi beberapa bagian dan berikut ulasan selengkapnya:

I’rab lafdzi (الإعراب اللفظي)

Jenis i’rab ini sering juga dikenal sebagai i’rab dzahir. I’rab ini adalah suatu perubahan yang ada di akhir kata dan bisa juga dilihat dari tanda pada suatu penulisan. Selain itu, adanya kalimat tersebut juga tidak ada yang mencegah adanya pelafalannya. 

Contohnya bisa dilihat pada lafadz رَجُلٌ . Lafadz ini bisa juga dibaca rojulan bila kalimatnya menjadi nashab. Namun, lafadz ini juga dapat dibaca rojulin ketika kedudukannya berubah menjadi khafadh atau jar.  

I’rab taqdiri (الإعراب التقديري)

Jenis i’rab ini merupakan perubahan yang tidak tampak bai tanda atau tulisannya, posisinya juga ada di akhir kata. Secara umum, i’rab ini jatuh di beberapa tempat dan berikut ulasannya:

Isim maqshur

Isim ini ada pada lafadz yang huruf akhirnya menggunakan alif lazimah. Tandanya bisa berupa kasroh, fathah, dhommah dan huruf illatnya dikira-kira. Contohnya: 

  • جَاءَ الْفَتَى, (telah datang seorang pemuda). Lafadz الْفَتَى termasuk rofa’ karena adanya dhommah dan dikira-kira dari alif lazimah.
  • رَأَيْتُ الْفَتَى, (aku melihat seorang pemuda). Lafadz الْفَتَى adalah nashab dan bisa dilihat dari tanda fathah yang dikira.

Isim Manqush

Isim ini huruf akhirnya berupa ya’ lazimah dan ketentuan huruf sebelumnya harus memakai harakat kasrah. Berikut Ketentuannya:

  • Rofa’ dan jer : hurufnya berupa dhommah dan kasroh yang bentuknya hanya dikira-kira saja. Contoh: مَرَرْتُ بِالْقَاضِي (jer) , جَاءَ الْقَاضِي (nashab)
  • Nashab : hurufnya berupa fathah dzohir. Contohnya : رَأَيْتُ الْقَاضِيَ 

Isim yang Dimudhofkan Kepada Ya’ Mutakallim

Isim ini dari sisi i’robnya menggunakan fathah, dhommah, dan juga kasroh yang dikira-kira. Berikut contohnya:

  • Rofa’ :  حَتّٰى يَأْذَنَ لِيْٓ اَبِيْٓ. Sampai ayahku mengizinkan (untuk kembali). Lafadz اَبِيْٓ berkedudukan sebagai rofa’ (dhommah muqoddaroh)
  • Nashob: اِنَّ اَبِيْ يَدْعُوْكَ. Sesungguhnya ayahku mengundangmu. Lafadz اَبِيْ berkedudukan nashob (fathah muqaddarah)
  • Jer: وَاغْفِرْ لِاَبِيْٓ. Dan ampunilah ayahku. Lafadz اَبِيْ berkedudukan jar (kasrah muqaddarah)

Fi’il Mudhari Mu’tal Akhir Dengan Alif

Fi’il tanda nashab dan rofa’nya menggunakan dhammah dan fathah muqaddarah. Sedangkan jazm tandanya berupa i’rob lafdzi berupa harmful illat. Contoh : 

Rofa‘: لَعَلَّكَ تَرْضَى, Lafadz تَرْضَى. Ini adalah i’rab karena menggunakan dhammah muqaddarah

Nashob: وَلَنْ تَرْضٰى عَنْكَ الْيَهُوْدُ وَلَا النَّصٰرٰى حَتّٰى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ. Lafadz تَرْضٰى kedudukannya nashab (fathah muqoddaroh).

Jadi pembagian i’rab secara umum terbagi menjadi dua, yakini i’rab lafdzi dan taqdiri. Untuk i’rab taqdiri sendiri terbagi lagi menjadi isim, maqshur, isim manqush, isim yang dimudhofkan dan yang lainnya. Ketentuan dari setiap i’rab ini berbeda-beda baik dalam keadaan nashab, jazm dan rofa’.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *