Na’at Man’ut: Pengertian dan Contohnya Dalam Nahwu

Dalam mempelajari bahasa dibutuhkan adanya struktur seperti di bahasa lain dan salah satunya dengan isim. Dalam struktur bahasa Arab, ada cukup banyak isim dan diantaranya ada Na’at Man’ut. 

Keduanya memiliki arti yang berbeda dimana na’at berarti kata sifat atau isim. Sedangkan man’ut adalah kalimat yang biasanya digunakan untuk menyebut isim dalam mensifati na’at.

Read More

Dalam memahami na’at dan man’ut, pengertian di atas masih terlalu kurang. Sebab dalam kaidah ini ada banyak bagian yang perlu dipahami mulai dari macam-macam hingga contohnya dalam bahasa Arab. 

Apa itu Na’at Man’ut?

Na’at secara bahasa merupakan sifat dari sebuah kata dalam suatu kalimat. Maka dari itu di dalam kitab Jurumiyah, na’at diartikan sebagai kata yang mengikuti rafa’, nashab, makrifat, jar dan nakirohnya. 

Sedangkan man’ut adalah kata yang diikuti atau disifati di dalam kalimat. Contohnya kalimat قَرَأْتُ الْكِتَابَ الْجَمِيْلَ yang artinya ‘saya telah membaca buku yang bagus’. 

Pada kalimat tersebut na’atnya adalah الْجَمِيْلَ dan man’utnya ada di kata الكتاب. Penggunaan kedua kaidah bahasa arab ini memiliki beberapa fungsi pada suatu kalimat, diantaranya:

  1. Na’at pada suatu kalimat bisa menjadi penjelas man’ut jika man’ut menjadi isim makrifah. 
  2. Fungsi lain bisa juga mengkhususkan man’ut saat diberi sifat jika man’ut adalah isim nakirah. Dengan ini maka bisa menghilangkan makna nakirah dengan menggunakan perantara wadha’
  3. Mengungkapkan perasaan kasih sayang atau celaan ke man’ut. 
  4. Memberi pujian man’ut dan memperjilas sifat kesempurnaannya pada man’ut. 
  5. Menginformasikan kepada pembaca bahwa pembicara sudah mengetahui man’utnya. 
  6. Mengurangi, menyamarkan dan meluaskan kalam. 

Daftar Anggota Isim Na’at

Isim na’at terdiri dari beberapa macam dan berikut daftar anggotanya dalam nahwu, diantaranya:

Na’at Haqiqi 

Na’at haqiqi adalah kata yang artinya merujuk pada sifat pada diri matbu’nya. Sehingga dalam na,at bentuknya bisa berupa mufrad, jumlah atau sibhul jumlah. Untuk lebih jelas terkait bentuk dari na’at haqiqi, berikut ulasannya:

Na’at Mufrad

Sesuai dengan namanya, na’at ini hanya terdiri dari satu kata saja dan terbagi dalam beberapa hal yaitu

Isim Fa’il

Isim fail lebih banyak menunjuk pada pelaku dari suatu perbuatan atau pembuat suatu peristiwa tertentu. 

Sifat Musyabbahah dengan isim Fa’il

Kata sifatnya (isim) memiliki kesamaan dengan isim fa’il namun bentuknya dari fi’il tsulatsi lazim. 

Sifat Mubalaghah Isim Fa’il

Kata sifat ini lebih banyak menunjukkan pada makna “sangat” atau “lebih”. 

Isim yang Diakhiri dengan Ya’ Nishab

Disebut ya’ nishab jika ya’ itu menggunakan tasydid dan letaknya ada di akhir isim. Sehingga bentuknya menunjukkan makna sandaran pada isim yang telah memiliki ya’ nishab. 

Na’at Syibhul Jumlah

Bentuk dari na’at ini bisa berupa jar majrur atau zharaf dalam suatu kalimat. Maka dari itu pembaca harus lebih jeli dan teliti ketika membaca sifat dari syibhul jumlah ada tidak tertukar dengan mubtada’ khabar. 

Na’at Jumlah

Ketika na’atnya sudah berupa jumlah maka man’ut harus dalam bentuk isim nakirah. Lalu dalam jumlah juga harus ada dhamir yang nantinya akan kembali ke man’utnya. 

Na’at Sababi

Jenis na’at ini tergolong pada na’at yang bisa memberi sifat pada isim dan erat kaitannya dengan matbu’. Dalam na’at ini, sifat yang ada pada kalimat tidak mencerminkan sifat pada matbu namun lebih ke kata setelah na’at. 

Karena letaknya yang demikian maka bentuk dari na’at sababi harus berupa isim mufrad. Selain itu kata sifat itu juga harus mengikuti pada matbu baik dalam hal ta’yin, i’rab dan nau’

Contoh Isim Na’at dan Man’ut

Untuk memudahkan dalam memahami isim na’at maka berikut beberapa contoh yang bisa kamu pelajari:

Status I’rab

Dalam nahwu, i’rab adalah aspek yang bisa mengatur akan perubahan bunyi pada suatu kata. Bentuk dari i’rab ini lebih banyak menggunakan harokat atau syakat di bagian akhir kalimat dan sesuai amil yang memasukinya

Contohnya bisa dilihat pada kalimat  رأيت الأمِيْرَ العادلَ yang artinya “saya melihat pemimpin yang adil itu”. Jika diperhatikan pada kalimat ini, na’at dan man’utnya sama-sama berupa i’rab manshub. Sebab ciri-cirinya memiliki fathah yang menunjukkan bahwa kata itu berupa nashob. 

Punya ‘Adad atau Jumlah Katanya Sama

Dalam bahasa Arab, suatu kalimat bisa juga disusun dengan huruf yang berbeda sesuai dengan jumlahnya. Bentuk kalimat ini bisa digolongkan pada tiga bagian yaitu isim mutsanna (jumlah dua) isim mufrad (jumlahnya satu) dan isim jamak (kata yang jumlahnya banyak). 

Untuk memudahkan, berikut beberapa contoh dari dan perbedaannya jika dibuat dalam bentuk kalimat:

  • جاء الطالب الناجح “satu siswa yang rajin”
  • جاء الطالبان الناجحان “dua siswa yang rajin”
  • جاء الطلاب الناجحون “para siswa yang rajin”

Bila diperhatikan ketiga kalimat di atas sama-sama memiliki na’at man’ut pada kalimatnya. Namun ‘adad pada kalimat tidak sama baik pada contoh satu, dua atau yang ketiga. 

Kesamaan Gender

Dalam kaidah bahasa arab, satu kata bisa disusun sesuai huruf yang berbeda tergantung gendel pada amil yang memasukinya. Bentuk dari amil ini berupa objek atau pelaku pada kalimat yang ada. 

Secara umum, gender dalam bahasa arab terbagi menjadi dua bagian, pertama muzakkar atau laki-laki dan kedua ada muannats (perempuan). Untuk memudahkan berikut contohnya:

حضر الطالب الناجح artinya : Siswa yang rajin itu sudah hadir

Namun kalimat yang sama dengan gender yang berbeda bisa dibuat dengan kalimat حضرت الطالبة الناجحة yang artinya siswi yang rajin itu sudah hadir. 

Jika diperhatikan pada kalimat pertama baik na’at atau man’utnya mempunya sifat mudzakkar (laki-laki). Sedangkan di kalimat kedua, na’at dan man’utnya menggunakan sifat muannats (perempuan). 

Ma’rifat dan Nakirahnya Sama

Dalam bahasa Arab, nakirah adalah isim umum dan tidak menunjuk pada suatu hal. Sedangkan ma’rifat lebih kepada isim yang secara khusus lebih banyak mengarah pada satu hal. 

Untuk memudahkan memahami kedua isim itu maka bisa dilihat pada hukum na’at dan man’ut pada kalimat berikut:

  • جاء طالبٌ ناجحٌ artinya seorang siswa yang rajin telah tiba
  • جاء الطالبُ الناجحُ artinya siswa yang rajin telah datang

Kedua contoh kalimat pertama bila dilihat na’at dan man’utnya lebih ke isim nakirah. Sebab kata sifatnya lebih bersifat umum dan itu ditandai dengan adanya tanwin di akhir katanya. Sedangkan contoh kalimat kedua, na’at dan man’utnya memiliki arti yang khusus dan lebih menunjuk ke makna tertentu. 

Jadi na’at man’ut dalam bahasa arab memiliki arti berbeda dimana na’at itu bisa berupa isim nakiroh, ma’rifat dan rafa’. Sedangkan man’ut adalah kata yang disifatinya di dalam suatu kalimat. 

Sehingga na’at bisa berfungsi untuk memperjelas adanya man’ut jika bentuknya isim ma’rifat. Selain itu, fungsi lain juga bisa memperluas kalam, menginformasikan bahwa pembaca sudah mengetahui man’ut, dll. Namun untuk memahami maka kamu bisa mempelajari pada bagian contoh yang ada di atas.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *