Istisna’ Adalah dan Contoh-Contohnya Dalam Bahasa Arab

Istisna’ adalah salah satu bagian dalam ilmu Nahwu yang harus dipahami ketika ingin belajar bahasa Arab. bagi orang yang masih awam, harus mengetahui terlebih dahulu pengertian dan contoh-contoh dari Istisna’. 

Dengan memahami Istisna’ bisa membuat kamu bisa membaca kitab-kitab kuning atau gundul. Sehingga, kamu yang ingin menekuni bahasa Arab maka perlu belajar istisna’ secara detail. 

Read More

Istisna’ Adalah

Di dalam ilmu Nahwu, Istisna’ adalah pengecualian dari kelompok atau bagian tertentu dengan bantuan alat istisna’. Misalnya, pak Budi berkata, “ para siswa sudah hadir kecuali Zaid”. 

Pada kalimat tersebut, Zaid disebut mustasna dan kata “kecuali” adalah alat istisna’. Sementara, para siswa disebut sebagai mustasna minhu. Untuk memahami lebih lanjut, berikut contoh Istisna’:

  • قَامَ الرِّجَالُ إِلَّا زَيْدًا ( Para lelaki telah berdiri kecuali zaid).
  • حَضَرَ الطُّلَّابُ إِلَّا طَلِبَيْنِ (Para siswa telah datang kecuali 2 orang)
  • عَادَتِ الطَّائِرَةُ عَدَا طَائِرَةً (Para pesawat telah kembali, kecuali satu pesawat.)
  • صَلَّى الْمُسْلِمُوْنَ الْجُمُعَةَ غَيْرَ الْمَرِيْضِ (Umat islam telah shalat jum’at kecuali yang sakit)
  • نَجَحَ الطُّلَّابُ فِيْ الْإِمْتِحَانِ سِوَىكَ (Para siswa telah lulus ujian kecuali kamu).
  • رَجَعَ الْعُمَّالُ إِلَى بَيْتِهِمْ عَدَا مُحَمَّدٍ (Para pekerja telah pulang kerumah mereka kecuali muhammad).

Pengertian Mustasna dan Mustasna Minhu

Untuk pengertian Mustasna sebenarnya sudah ada penjelasan dalam bentuk bahasa Arab dan berikut uraiannya:

الْمُسْتَثْنَى هُوَ اسْمٌ مَنْصُوْبٌ يَقَعُ بَعْدَ أَدَاةٍ مِنْ أَدَوَاتِ الْإِسْتِثْنَاءِ لِيُخَالِفَ مَا قَبْلَهَا فِيْ الْحُكْمِ (فؤاد نعمة، ملخص قواعد اللغة العربية(مصر: نهضة مصر) ص. 79)

Mustasna adalah Isim Manshub yang posisinya ada di belakang. Selain itu, salah satu adat istisna’ ada di kalimat sebelumnya. Mudahnya, mustasna adalah sesuatu yang dikecualikan. 

Sementara, pengertian mustasna minhu dijelaskan dengan keterangan berbahasa Arab berikut:

الْمُسْتَثْنَى مِنْهُ هُوَ اسْمٌ يَقَعُ قَبْلَ أَدَاةِ الْإِسْتِثْنَاءِ (فؤاد نعمة، ملخص قواعد اللغة العربية(مصر: نهضة مصر)

Mustasna’ minhu adalah isim yang telaknya ada sebelum adat atau alat Istisna’. Mudahnya, mustasna minhu adalah sekelompok atau golongan yang masuk di dalam bagiannya. 

Adat atau Alat Istisna’

وَحُرُوفُ اَلِاسْتِثْنَاءِ ثَمَانِيَةٌ وَهِيَ إِلَّا, وَغَيْرُ, وَسِوَى, وَسُوَى, وَسَوَاءٌ, وَخَلَا, وَعَدَا, وَحَاشَا

Huruf Istisna jumlahnya ada delapan, yakni إِلَّا, وَغَيْرُ, وَسِوَى, وَسُوَى, وَسَوَاءٌ, وَخَلَا, وَعَدَا, وَحَاشَا . semua huruf itu memiliki arti yang sama yakni kecuali. Meski demikian, penggunaan dari semua hurufnya berbeda-beda. Contohnya : 

قَامَ اَلْقَوْمُ إِلَّا زَيْدًا (semua orang telah berdiri kecuali Zaid)

خَرَجَ اَلنَّاسُ إِلَّا عَمْرًا (Semua orang telah keluar kecuali Umar)

صَلَّى الْمُسْلِمُوْنَ الْجُمُعَةَ غَيْرَ الْمَرِيْضِ (Semua umat Islam telah shalat Jum’at kecuali yang sakit).

Lafadz yang ditandai dengan warna merah tebal adalah alat istisna. 

Jenis-Jenis Istisna’

 

Secara umum, istisna dibagi menjadi dua bagian dan berikut ulasan selengkapnya:

Istisna’ Muttashil 

Istisna’ jenis ini adalah kalimat yang di dalam pembahasannya masih membahas seputar satu rumpun. Contohnya : 

قَامَ اَلْقَوْمُ إِلَّا زَيْدًا  

Lafadz زَيْدًا menjadi mustasna dan lafadz اَلْقَوْمُ sebagai mustasna minhu. Diantara kedua lafadz tersebut pembahasannya masih seputar manusia atau sesama manusia. Sehingga, kalimat tersebut disebut istisna’ muttashil atau bersambung. 

Istisna’ Munqothi’

Berbeda dengan sebelumnya, istisna’ ini bermakna terputus. Sehingga, antara mustasna’ dan mustasna’ minhu tidak membahas sesuatu yang sama. Misalnya, dalam kalimat tersebut membahas terkait antara manusia dan hewan. Berikut contohnya:

قَامَ اَلْقَوْمُ إِلَّا حِمَارًا / حِمَرٌ

Lafadz حِمَارًا menjadi mustasna minhu dan lafadz اَلْقَوْمُ  sebagai mustasna. Makna dari mustasna membahas seputar manusia, sementara, mustasna minhu terkait hewan. Sehingga, kedua lafadz tersebut terputus karena pembahasannya bukan di topik yang sama. 

Hukum-Hukum I’rab Dalam Istisna

Di dalam istisna, ada beberapa hukum i’rab yang berlaku dan berikut ulasan selengkapnya:

Wajib Nashob

Dalam istisna’ ada yang hukumnya nashob jika kalimat bahasa Arabnya sempurna. Disebut kalimat sempurna jika di dalamnya ada mustasna minhu dan mustasna. Contohnya Istisna’ dengan إِلَّا : 

 قَامَ اَلْقَوْمُ إِلَّا زَيْدًا  (Semua kaum telah datang kecuali Zaid)

Lafadz اَلْقَوْمُ sebagai mjustasna minhu yang cara membacanya dibaca rofa’, karena kedudukannya sebagai fa’il. Semenatara kata زَيْدًا sebagai mustasna yang di baca nashob dan ditandai dengan adanya fathah. Dibaca demikian karena lafadz itu dikecualikan oleh kata  إِلَّا dan tidak didahului oleh huruf nafi atau istifham.

Boleh Nashob atau Rofa

Untuk memahami lebih delta, perhatikan contoh kalimat berikut:

 مَا قَامَ اَلْقَوْمُ إِلاَّ زَيْدًا / زَيْدٌ  (Semua kaum tidak datang kecuali Zaid)

Pada kalimat tersebut disebut sebagai kalam taam manfi atau kalimat sempurna dan didalamnya ada huruf nahi, nafi dan istifham. Lafadz مَا sebagai huruf nafi, dan lafadz اَلْقَوْمُ sebagai mustasna minhu. Kedudukan kedua lafadz ini sebagai fa’il yang dibaca rofa’ dan ditandai oleh dhommah. 

Lafadz زَيْدًا sebagai mustasna dan dikecualikan oleh huruf istisna’ إِلاَّ dan dibaca nasob. Sedangkan, lafadz زَيْدٌ sebagai badal/pengganti yang mengikuti mubdal minhu lafadz اَلْقَوْمُ. Sehingga, lafadz di atas bisa dibaca badal dari mubdal minhu atau nashob jika sebagai mustasna

Sesuai Kedudukan dan Amilnya

Untuk i’rob dari istisna’ bisa juga tergantung kedudukan dan amil jika menggunakan kalimat naqis (kalimat yang kurang). Dinamakan kalimat naqis jika didalamnya tidak ada mustasna minhu. Jika posisinya demikian maka i’robnya tergantung pada amil di kalimat tersebut. Contohnya:

  • قَامَ إِلاَّ زَيْدٌ       
  • رَاَيْتُ إِلاَّ زَيْدًا
  • مَرَرْتُ إِلاَّ بِزَيْدٍ

Pada ketika lafadz diatas memiliki mustasna (زَيْدٌ, زَيْدًا, زَيْدٍ ) yang berbeda. Ini terjadi karena i’rob dari ketiganya sesuai dengan kedudukan atau amil pada mustasna’ itu sendiri. 

Pada lafadz pertama, failnya dibaca rofa’. Lafadz kedua, dibaca nashob karena sebagai maf’ul bih. Sedangkan pada lafadz ketiga, dibaca khofad (jer) sebab kalimatnya sebagai isim majrur dan ditandai dengan didahului oleh huruf jer. 

Wajib Khafadh atau Jar

Dalam istisna’, i’roba juga ada yang harus dibaca khofad seperti menggunakan lafadz غَيْرٍ, وَسِوَى, وَسُوَى, وَسَوَاءٍ . Ini terjadi karena mustasna pada kalimat itu kedudukannya sebagai mudhof ilaih.

Contohnya : 

قَامَ الرِّجَالُ غَيْرَ مَحْمُوْدٍ  ( Para lelaki telah berdiri kecuali mahmud)

مَا قَامَ الرِّجَالُ غَيْرَ مَحْمُوْدٍ (Para lelaki tidak ada yang berdiri kecuali mahmud)

مَا قَامَ غَيْرُ مَحْمُوْدٍ (Tidak ada yang berdiri kecuali mahmud).

Jadi istisna’ adalah lafadz pengecualian dari kelompok tertentu dengan bantuan huruf istisna’. Misalnya kalimat “semua siswa wajib berkumpul kecuali Budi”. Pada kalimat itu, budi menjadi mustasna (orang yang dikecualikan) dan kecuali sebagai alat bantu istisna’nya. 

Istisna’ sendiri di dalam bahasa Arab ada dua, yakni istisna’ muttashil (bersambung) dan Istisna Munqothi’ (terputus). Sementara itu, alat bantu atau huruf istisna’ juga terbagi menjadi ada delapan, yakni إِلَّا, وَغَيْرُ, وَسِوَى, وَسُوَى, وَسَوَاءٌ, وَخَلَا, وَعَدَا, وَحَاشَا .

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *