Isim Hal Adalah, Jenis dan Syarat-Syaratnya

Dalam tata bahasa Arab atau ilmu nahwu, ada berbagai jenis isim dan diantaranya ada isim hal. Isim ini terdiri dari beberapa jenis dan semuanya digunakan ketika kamu ingin membaca kitab kuning. 

Sehingga, keberadaan isim hal adalah sesuatu yang perlu diketahui sebelum membaca kitab kuning/gundul. Secara umum, hal ini memiliki kaitan dengan adanya keadaan, tingkah laku atau perilaku. Dengan demikian, adanya hal ini berbanding lurus dengan keterangan keadaan. 

Read More

Hal Adalah

Dalam kitab Jurumiyah, hal adalah isim yang i’robnya manshub dan digunakan untuk menafsirkan keadaan yang tersamarkan. Selain itu, hal juga diartikan keadaan yang masih tergolong samar dan status kalimatnya masih perlu keterangan tambahan. 

Dengan demikian, isim hal merupakan kalimat yang masuk kategori isim nakiroh yang dinasabhkan. Fungsi isim tersebut untuk menjelaskan kesamaran keadaan maf’ul bih atau fa’ilnya. Misalnya, dalam kalimat tersebut masih menimbulkan pertanyaan ‘bagaimana’. 

Dengan status yang demikian, hal berfungsi ketika ada kata kerja utama berada diawal. Sehingga, kedudukan hal ini nantinya sebagai kata kerja kedua setelah fi’il dan fungsinya sebagai kata kerja utama. 

Contohnya:

خطب محمد قائم (Muhammad berkhotbah dengan berdiri).

Dalam lafadz tersebut, ada dua kata kerja, yakni “berkhotbah” dan “berdiri”. Meskipun kata قائما (berdiri) ini masuk dalam kategori kalimat isim. 

Syarat-Syarat Isim Hal

Suatu kalimat bisa disebut sebagai isim hal jika di dalamnya meliputi beberapa syarat, diantaranya:

Isim Sifatnya Tidak Tetap

Hal harus selalu bersifat melekat pada shahib al-hal. Meskipun demikian, sifat itu bisa juga berubah atau berpindah-pindah. Namun, dalam beberapa kalimat ada juga hal yang sifat isimnya tidak pernah berubah dan tetap melekat pada shahib al-hal. contohnya:

يريد االله أن يخفّف عنكم وخلق الأنسان ضعيفا

Artinya : Allah hendak memberi keringanan kepadamu dan manusia dijadikan bersifat (dalam keadaan) lemah,” (Q. S. al-Nisâ [4]: 28). Contoh kalimat tersebut tergolong pada hal yang bersifat tetap. Sebab, keadaan lemah akan selalu disandang manusia dan tidak bisa berubah sampai kapanpun. 

Berupa Isim Nakiroh

Hal bisa ditanwil menjadi isim nakiroh jika di dalam lafadznya ada isim ma’rifat. Meski kedudukannya seperti ini, makna dari lafadznya tetap atau tidak berubah. Contohnya:

جَاءَ زَيْدٌ وَحْدَهُ (Zaid datang sendirian)

Lafadz wahdahu ini disebut juga ma’rifat karena idhafah. Dengan demikian, kata tersebut harus bisa dita’wil dengan  وحده (isim nakirah). Sedangkan, مُنْفَرِدًا termasuk murakkab (lafadz yang terdiri dari dua kalimat atau lebih). 

Keadaan Suatu Lafadz Logis

Syarat lainnya berupa kata-kata atau isim yang cenderung masuk akal ketika melekat pada shahib al-hal. contohnya:

يفر أسد باآيا (Singa berlari sambil menangis).

Pada kalimat di atas sekilas tidak masuk akal. sebab , adanya suatu keadaan yang menunjukkan bahwa itu tidak masuk akal, yaitu singa menangis. 

Ada Isim Musytaq (Isim yang Bisa Ditasrif)

Jenis isim ini terbentuk dari kata-kata lain di dalam suatu kalimat. Dengan demikian, saat ada lafadz yang menggunakan isim jamid maka isim itu perlu di tanwil agar menjadi isim musytaq. 

Sehingga, jika ada hal yang jumlah fi’liyah atau ismiyah didahului oleh preposisi qod, ada dhomir maka harus kembali ke shahib al-hal. Dalam keadaan seperti itu, isimnya wajib menggunakan wawu atau lebih dikenal dengan wawu haliyah. 

  • ذَهَبَ زَيْدٌ وَقَدْ حَضَرَ الْقَوْمُ كُلُّهُمْ (Zaid pergi, padahal semua kaum datang). Lafadz’ وَقَدْ حَضَرَ الْقَوْمُ adalah contoh hal Jumlah Fi’liyah.
  • جَاءَ عَلِيٌ وَالشَّمْسُ طَالِعَةٌ (Ali telah datang sementara matahari sedang terbit.). Jumlah وَالشَّمْسُ طَالِعَةٌ adalah contoh hal berupa Jumlah Ismiyah.

Dibaca Nashob

Suatu kalimat disebut isim hal jika lafadznya bisa dibaca nashab atau manshub. Ketentuan itu berlaku untuk kalimat baik secara taqdiri atau lafdzi. Berikut contoh dari  i’rob taqdiri nashob:

جَاءَ عَلِيٌ بَاكٍ.

Lafadz di atas dibaca nashab dan termasuk dalam manshubatul asma’ (isim-isim yang dibaca nashab). Selain itu, hal juga bisa dinashobkan oleh isim fa’il, fi’il, masdhar, isim maf’ul, af’alul tafdil, dzarif dlsb. Pengertian dari semua itu adalah amil yang dinashobkan oleh hal ada pada kalimat tersebut. 

Menjelaskan Keadaan

Hal memiliki fungsi untuk menjelaskan akan suatu keadaan yang masih samar dan ada di dalam shahibul hal. Sehingga, adanya hal lebih ke mensifati kesamaran agar kalimat bisa dipahami apa yang disampaikan. 

Bagian yang dijelaskan oleh hal ini meliputi beberapa aspek seperti tingkah, perilaku dan keadaan. Dengan demikian, hal lebih mirip dengan tamyiz karena sama-sama menjelaskan sesuatu. Perbedaan keduanya adalah tamyiz untuk menjelaskan keadaan dzat dan hal lebih ke suatu keadaan atau hai’ah.  

Fudhlah

Syarat lainnya adalah fudhlah atau hal yang lafadznya bukan berasal dari kalimat utama. Contohnya Zaid datang sendirian. ‘Zaid datang’ adalah pokok/inti kalimat, sedangkan ‘’sendirian’ disebut fudhlah.

 

Jenis-Jenis Hal

Ada memiliki beberapa jenis dalam menjelaskan keadaan yang masih samar, diantaranya:

Hal Mufrad (Tingkat Kata)

Sesuai dengan namanya, jenis hal ini memiliki makna tunggal (tidak lebih dari satu). Sehingga, isim hal ini hanya terdiri dari satu atau atau isim mufrad saja. Contoh kalimatnya sebagai berikut:

لا تأكل الطعام الساخن (Jangan makan makanan dalam keadaan panas)

Hal Jumlah Ismiyah

Hal jenis ini lebih ke menandakan jumlah mubtada dan khobar dalam suatu kalimat. Sehingga, di dalam lafadz itu ada N1 (mubtada) + N2 (khabar), lalu diiringi dengan wawu haliyah. Contohnya:

لاتأ آل الفاآهة وهي فجة (Jangan kamu makan buah dalam keadaan masih mentah)

Hal Jumlah Fi’liyah

Jenis lainnya ada hal jumlah fi’liyah yang didalamnya ada fi’il dan fail baik itu fi’il madhi atau fi’il mudhori. Bila berupa fi’il madhi maka harus diikuti dengan wawu haliyah dan huruf qod. Berikut contohnya:

غاب أخوك وقد حضر جميع الأصدقاء(Kakakmu tidak hadir sedangkan teman-temanmu hadir)

Hal zaraf

Dalam hal zaraf ini terdiri dari dua bagian yaitu zaraf zaman (keterangan waktu) dan zaraf makan (keterangan tempat). Di dalam setiap zaraf itu, minimal harus ada frase preposisi + N1. Berikut contoh kalimatnya:

شهدت أخي بين المصلين (Aku menyaksikan saudaraku ada di antara orang-orang shalih)

Hal Jar Majrur

Jenis hal yang terakhir ini konstruksinya lebih ke jar majrur, dimana huruf jarnya bisa menjadikan isim berubah menjadi majrur. Berikut contoh kalimatnya:

فخرج على قومه في زينته قال ربّ نجّني من القوم الظّالمين (Musa keluar dari kota itu dengan rasa takut, dengan khawatir, ia berdoa “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang lalim.”)

Jadi isim hal adalah suatu lafadz yang didalamnya menjelaskan suatu keadaan yang masih tergolong samar atau tidak jelas. Ada syarat tertentu disebut hal, diantaranya lafadznya harus logis dan dibaca nashob, menjelaskan keadaan dan sifatnya tidak tetap. 

Sementara itu, hal juga terdiri dari berbagai jenis yakni, hal ismiyah, fi’liyah, zaraf, mufrad dan yang lainnya. Semua itu harus dipahami secara menyeluruh bagi kamu yang akan belajar ilmu nahwu. 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *