Hukum Isim, Contoh dan Penerapannya Dalam Bahasa Arab

Bagi kamu yang mau memperdalam membaca kitab kuning maka perlu memahami hukum isim. Sebenarnya di berbagai pondok pesantren terkait adanya hukum sering juga disebut isim lima belas. 

Secara umum, isim lima belajar bisa digolongkan sebagai tanda-tanda i’rab di dalam kitab jurumiyah. Kitab ini tergolong bagian awal dalam ilmu nahwu dan dipelajari di berbagai pondok pesantren di Indonesia. 

Read More

Untuk memudahkan dalam mempelajari hukum maka perlu adanya contoh agar lebih mudah dipahami. Selain itu penggunaan hukum isim ini juga kerap diterapkan pada kata sifat, kata kerja dan kata ganti dalam bahasa Arab

Apa itu Hukum Isim Lima Belas?

Hukum isim lima belas aturan yang ada dalam bahasa Arab dan jumlah kata bendanya terdiri dari 15 huruf atau lebih. Isim yang tergolong di dalam kaidah itu diantaranya isim mutsanna (jama’ dua) dan jama’ taksir ( jamak tak tentu). 

Dalam aturan tersebut meliputi beberapa hal seperti kata kerja, kata ganti dan yang lainnya. Sehingga semua aturan tersebut perlu dipahami dengan baik agar bisa membedakan ketika membaca bahasa Arab.

Ciri-Ciri Isim

Sebelum membahas lebih jauh, kamu perlu mengetahui ciri-ciri dari isim diantaranya sebagai berikut:

Diakhiri Dengan Huruf Tanwin

Salah satu dari ciri-ciri isim bisa dilihat pada harakat akhirnya yang berupa tanwin. Bentuk dari tanwinnya bisa berupa fathah, kasrah atau dhammah dan berikut contohnya:

  • رَجُلٌ : Laki-laki
  • وَصهٍ : Diam
  • كِتَابٍ : Buku

Diakhiri Alif Lam

Ciri lainnya jika ada lafadz atau kalimat dimana sebelumnya berupa tanwin. Namun tanwinnya menjadi hilang ketika bertemu dengan alif lam dan berikut contoh lengkapnya:

  • الرجل : Seorang laki-laki
  • وَالغلام : Seorang anak
  • والكتاب : Sebuah kitab/buku

Diawali Huruf Jar

Jika ada lafadz di dalam bahasa Arab yang diawali dengan huruf jar masih bisa termasuk isim dan berikut contohnya:

ذَهَبْتُ مِنَ الْبَيْتِ إِلَى الْمَدْرَسَةِ : Saya pergi dari rumah ke sekolah

Pada lafadz di atas, مِنَ dan إِلَى.bertindak sebagai huruf jar. Sehingga kalimat sesudahnya الْبَيْت dan الْمَدْرَسَ  masuk dalam kategori isim. Dua kata tersebut juga masuk menjadi majrur (kondisi ketika suatu lafadz dimasuki huruf jar)

Diawali Ya’ Nida 

Suatu kalimat disebut ya’ nida jika berfungsi sebagai menyeru, seperti يَا مُحَمَّدُ  (wahai Muhammad). Pada kata مُحَمَّدُ itu termasuk isim sebab dimasuki oleh huruf ya’ nida.

Mudhaf

Di dalam bahasa Arab, mudhaf itu disebut sebagai penggabungan dua kata atau lebih. Jika hanya dua kata maka kata pertama disebut mudhaf dan kata kedua dinamakan mudhof ilaih. Untuk memudahkan, berikut contohnya:

  • كرة القدم : Sepak bola
  • باب الفصل : Pintu kelas

Hukum Isim dan contohnya

Hukum isim yang ada di dalam bahasa Arab ini terbagi menjadi 15 bagian dan berikut ulasannya

Isim Mufrad

  • جَاءَ ذَيْدٌ : Kalimat ini di rafa’ dengan menggunakan dhommah
  • مَرَرْتُ بِذَيٍدٍ : Kalimat ini di jar dengan kasrah
  • رَأَيْتُ ذَيْداً : Kalimatnya di nashab dengan fathah

Jama’ Taksir

  • مَرَرْتُ بِرِجَالٍ : Kalimatnya di jar dengan kasrah
  • جَاءَ رِجَالٌ : Kalimatnya di rafa’ dengan dhammah
  • رَأَيْتُ رِجَالً : Kalimatnya di nashab dengan fathah

Isim Tasniah

  • مَرَرْتُ بذَيْدَيْنِ : Kalimatnya di jar dengan ya’
  • جَاءَ ذَيْدَانِ : Kalimatnya di rafa’ dengan alif
  • رَأَيْتُ ذَيْدَيْنِ : Kalimatnya di nashab dengan ya’

Jama’ Mudazakkar Salim

  • جَاءَ ذَيْدُوْنَ : kalimatnya di rafa’ dengan wau (و)
  • مَرَرْتُ بِذَيٍدِيْنَ : kalimatnya di jar dengan ya’ (ي)
  • رَأَيْتُ ذَيْدَيْنِ : kalimatnya di nashab dengan ya (ي) 

Isim yang Lima

  • مَرَرتُ بِاَبِيكَ : Kalimatnya di jar dengan ya’ (ي) 
  • جَاءَ أَبُوْكَ : Kalimatnya di rafa’ dengan wau (و) 
  • رَأَيْتُ أَبَاكَ : Kalimatnya nashab dengan alif

Jama’ Muannats Salim

  • مَرَرْتُ مُؤْمِنَاتٍ : Kalimatnya di jar dengan kasrah
  • جَاءَ مُؤْمِنَاتٌ : Kalimatnya di rafa’ dengan dhammah
  • رَأَيْتُ مُؤْمِنَاتٍ : Kalimatnya di nashab dengan kasrah

Isim Manqus

  • جَاءَ قَاضِي : Kalimatnya di rafa’ dengan taqdir
  • رَأَيْتُ قَاضِيَ : Kalimatnya di nashab dengan zahir
  • مَرَرْتُ بقَاضِي : Kalimatnya di jar dengan taqdir 

Isim Maqsur

  • جَاءَ مُوْسَى : Kalimatnya di rafa’ dengan taqdir
  • رَأَيْتُ مُوْسَى : Kalimatnya di nashab dengan taqdir
  • مَرَرْتُ بِمُوْسَى : Kalimatnya di jar dengan taqdir

Isim La Yansyarif

  • جَاءَ اِبْرَاهِمُ : Kalimatnya di rafa’ dengan dhammah
  • رَأَيْتُ اِبْرَاهِمَ : Kalimatnya di nashab dengan fathah
  • مَرَرْتُ بِاِبْرَاهِمَ : Kalimatnya di jar dengan fathah

Isim yang Izafah pada Mudhof ilaih

  • جَاءَ غُلَامِيْ : Kalimatnya di rafa’ dengan taqdir
  • رَأَيْتُ غُلَامِيْ : Kalimatnya di nashab dengan taqdir
  • مَرَرْتُ بِغُلَامِيْ : Kalimatnya di jar dengan taqdir

Fi’il Mudhari’ Shahih Akhir

  • ذَيْدٌ يَقُوْمُ : Kalimatnya di rafa’ dengan dhammah
  • ذَيْدٌ اَنْ يَقُوْمُ : Kalimatnya di nashab dengan fathah
  • ذَيْدٌ لَمْ يَقُوْمُ : Kalimatnya di jazm dengan sukun

Fiil yang Lima

  • ذَيْدَانِ يَقُوْمَانِ : Kalimatnya di rafa’ dengan dhammah
  • ذَيْدَانِ اَنْ يَقُوْمَا : Kalimatnya di nashab dengan fathah
  • ذَيْدَانِ لَمْ يَقُوْمَا : Kalimatnya di jazm dengan sukun

Fiil Mudhari’ Muqtal Wau

  • ذَيْدٌ يَدْعُو : Kalimatnya di rafa’ dengan taqdir
  • ذَيْدٌ اَنْ يَدْعُوَ : Kalimatnya di nashab dengan zahir
  • ذَيْدٌ لَمْ يَدْعُ : Kalimatnya di di jazm dengan buang wau

Fiil Mudhari’ Muqtal Ya’

  • ذَيْدٌ يَرْمِي : Kalimatnya di rafa’ dengan taqdir
  • ذَيْدٌ اَنْ يَرْمِيَ : Kalimatnya di nashab dengan zahir
  • ذَيْدٌ لَمْ يَرْمِ : Kalimatnya di di jazm dengan buang wau

Fiil Mudhari’ Muqtal Alif

  • ذَيْدٌ يَخْشَى : Kalimatnya di rafa’ dengan taqdir
  • ذَيْدٌ اَنْ يَخْشَى : Kalimatnya di nashab dengan taqdir
  • ذَيْدٌ لَمْ يَخْشَ : Kalimatnya di di jazm dengan buang alif

Penerapan Hukum Isim

Semua hukum isim yang dijelaskan di atas penerapannya bisa dilakukan dengan sebagai:

Penggunaan Kata Ganti

Kata kandi dalam bahasa Arab bisa digunakan pada isim yang termasuk kategori isim mutsanna. Untuk penggantian kata ganti tersebut bisa disesuaikan dengan jenis dan jumlah isim yang digunakan. 

Misalnya dalam kalimat bahasa arab ada kata “saudara” yang masuk dalam golongan isim mutsanna. Dalam kondisi yang demikian maka kata ganti bisa disesuaikan dengan jumlah saudara di dalam kalimat tersebut. 

Pengunaan Kata Kerja (Fiil)

Selain kata ganti, penggunaan kata kerja juga perlu disesuaikan dengan isim yang dipakai. Misalnya kata “saudara” dimana pada kalimat tersebut masuk dalam golongan isim mutsanna. Dengan model kalimat seperti itu maka kata kerjanya harus memenuhi kriteria tertentu seperti kata kerja jama’ atau yang lainnya. 

Penggunaan Kata Sifat 

Pengunaan kata sifat dengan kalimat yang masuk isim mustanan juga perlu diperhatikan. Oleh karena itu, kata sifat itu harus sesuai dengan jenis dan jumlah isim yang digunakan. 

Jadi hukum isim di dalam bahasa arab dikelompokkan menjadi lima belas bagian. Penggunaan hukum tersebut bisa diterapkan dalam beberapa hal baik itu kata ganti, kata kerja atau sifat. 

Namun sebelum memahami hukum isim sebaiknya ketahui dulu ciri-ciri dari isim. Salah satu cirinya diawali huruf tanwin, adanya mudhof dan selalu didahului jar dan ya’ nida.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *