Pengertian Dzonna Wa Akhwatuha dan Anggota-Anggotanya

Dalam ilmu nahwu, ada beberapa amil yang bisa masuk ke dalam jumlah ismiyah. Di dalam bahasa Arab, suatu kalimat disebut jumlah ismiyah jika di dalamnya ada khobar dan mubtada’

Salah satu dari amil tersebut diantaranya adalah dzonna wa akhwatuha. Bagi kamu yang masih awam terkait istilah tersebut maka perlu memahami pengertian dan beberapa anggotanya

Read More

Apa itu Dzonna Wa Akhwatuha?

Sebagaimana disinggung di bagian awal, dzonna wa akhwatuha adalah salah satu amil di dalam ilmu nahwu yang bisa dimasukkan dalam jumlah ismiyah. Fungsi dari amil tersebut adalah menashobkan khobar dan mubtada’. Ini berbeda dengan amil lain yang umumnya hanya bisa menashobkan khabar saja. 

Selain itu, mubtada’ dan khobar yang ada di dalam ilmu nahwu bisa disebut maf’ul dari dzonna. Keterangan ini sebenarnya sudah nadzab agar mudah dihafal dan berikut lafadznya:

اِنْصِبْ بِظَنَّ الْمُبْتَدَا مَعَ الْخَبَرْ وَكُلِّ فِعْلٍ بَعْدَهَاعَلَى الْأَثَرْ

Artinya: Nashobkanlah pada mubtada’ dan khobar, dan setiap fi’il sesudahnya setelah asar. Dari pengertian itu, dzonna tidak hanya bisa menashabkan khabar atau mubtada’ tetapi dapat menjadikan keduanya maf’ul. 

Anggota Dari Dzonna wa Akhwatuha

Isim dzonna wa akhwatuha ini sebenarnya juga memiliki beberapa anggota, diantaranya sebagai berikut:

Dzonna (ظَنَّ)

Arti dari dzonna ini sebenarnya adalah mengira atau menyangka. Salah satu contohnya ada di al-qur’an dan berikut lafadznya:

فَقَالَ لَهُ فِرْعَوْنُ إِنِّي لَأَظُنُّكَ يَا مُوسَى مَسْحُورًا

Artinya: Lalu Fir’aun berkata kepadanya “Sesungguhnya aku sangka kamu, Hai Musa, seorang yang kena sihir”.

Dari ayat tersebut, ada penggalan kalimat dhomir (كَ) dan (مَسْحُورًا) . Keduanya berkedudukan sebagai maf’ul dari dzonna dan juga nashab. 

Hasiba (حَسِبَ) 

Berbeda halnya dengan sebelumnya, hasiba ini memiliki makna aku telah mengira. Berikut contoh lafadznya di dalam al-qur’an:

حَسبْتُ حَامدًا صَادِقًا

Artinya: Aku mengira Hamid itu jujur.

Lafadz (حَامدًا) dan (صَادِقًا) berkedudukan nashab, sebab keduanya menjadi maf’ul dair lafadz sebelumnya, hasiba (حَسِبَ).

karena menjadi maf’ul dari lafadz hasiba (حَسِبَ).

Za’ama (زَعَمَ)

Anggota lainnya juga ada za’ama yang artinya aku telah menduga dengan yakin. Berikut contoh lafadznya:

زَعَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنْ لَنْ يُبْعَثُوا

Artinya: orang-orang yang kafir mengira bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan.

Dari kalimat di atas, lafadz yang menjadi maf’ul dari za’ama adalah (الَّذِينَ) dan (كَفَرُوا). Keduanya sama-sama memiliki hukum i’rab menjadi nashab. 

Wajada (وَجَدَ)

Secara bahasa, anggota dari dzonna ini memiliki arti mendapati. Jika dihubungkan dengan ilmu nahwu, kalimat ini bisa berfaedah yakin atau dapat menyakinkan khobar. contohnya:

وَوَجَدَكَ ضَاۤلًّا فَهَدٰىۖ

Artinya: dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk.

Lafadz dengan Dhomir (كَ) dan (ضَاۤلًّا ) kedudukannya sebagai i’rab nashab. Sebba, keduanya menjadi maf’ul dari wajada. 

Contoh-Contoh Isim Dzonna Wa Akhwatuha

Ada beberapa contoh kalimat di dalam bahasa arab yang masuk dalam dzonna, diantaranya:

  • ظَنَنْنَا مُحَمَّدًا اُسْتَاذًا فِى هَذِهِ الْمَسْجِدِ (kami menyangka Muhammad adalah guru di masjid ini)
  • اِجْعَلْ هَذَا الْبَيْتَ مَسْجِدًا (jadikanlah rumah ini sebagai masjid)
  • وَاجْعَلْهُ لَنَا إِمَامًا وَنُورًا وَهُدًا وَرَحْمَةً (jadikanlah Al-Quran bagi kami pemimpin, cahaya, petunjuk, dan rohmat)
  • رَأَيْتُ نِسَاءً فِى الْبَيْتِهِ (saya telah melihat wanita di rumahnya)

Jadi isim dzonna wa akhwatuha adalah amil yang bisa masuk ke dalam jumlah ismiyah di dalam ilmu nahwu. Isim ini juga memiliki beberapa anggota seperti za’ama, wajada, hasiba, dzonna dan yang lainnya. Untuk memahami beberapa anggota maka bisa dipahami dari beberapa contoh yang sudah dijabarkan.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *