Contoh Fi’il Lazim dan Fi’il Muta’addi Berikut Macam-Macamnya

Di Dalam ilmu nahwu ada juga kalimat yang tanpa atau menggunakan objek. Kalimat itulah yang sering disebut fi’il lazim dan fi’il muta’addi. Kedua fi’il ini memang selalu beriringan karena suatu kalimat bisa diubah dari fi’il lazim ke fi’il muta’addi ataupun sebaliknya. 

Untuk memahami akan keseluruhan maka di artikel ini juga akan diberikan contoh fi’il lazim dan fi’il muta’addi. Lalu, fi’il mana yang penulisannya tidak atau menggunakan objek? Semua akan dibahas pada artikel ini

Read More

Pengertian Fi’il Lazim

Fi’il lazim merupakan fi’il yang di dalam kalimatnya tidak lagi membutuhkan objek. Jadi dalam kalimat tersebut ada fi’il lazim dan fa’il saja. Meski tanpa objek, kalimat tersebut tergolong sempurna karena bisa dipahami oleh siapapun yang membacanya. 

Contoh Fi’il Lazim

Bagi kamu yang belum paham, maka berikut beberapa contoh fi’il lazim dalam bentuk kalimat di dalam ilmu nahwu:

  • جَاءَ فَارِسٌ (Faris telah datang)
  • خَرَجَ عَزَّامٌ مِنَ الْفَصْلِ (Azam telah keluar dari kelas)
  • ذَهَبَتْ فَاطِمَةُ إِلَى السُّوْقِ (Fatimah telah pergi ke pasar)
  • يَنَامُ سُلَيْمَانُ عَلَى السَّرِيْرِ (Sulaiman sedang tidur di atas ranjang)
  • قَامَ بُرْهَانُ أَمَامَ الْبَيْتِ (Burhan telah berdiri di depan rumah).

Kata yang dicetak tebal dan warna merah merupakan fi’il lazim. Jika diperhatikan, fi’il lazim ini lebih ke kalimat lampau atau sudah dilakukan oleh seseorang. Sementara, contoh fi’il lazim tanpa tambahan subjek adalah:

 

Lafadz  Makna 
جَاءَ Telah datang
خَرَجَ  Telah keluar
ذَهَبَ Telah pergi
يَنَامُ Sedang tidur
يَنَامُ Telah berdiri
قَامَ Sedang tidur
حَضَرَ  Telah hadir
دَخَلَ Telah masuk
شَجُعَ Berani
جَبُنَ Takut
حَسُنَ Baik
قَبَحَ Jelek
طَالَ Panjang
قَصَرَ Pendek
طَهُرَ Suci
نَظُفَ Bersih
وَسِخَ Kotor
دَنِسَ Kotor
قَذِرَ Tercemar
مَرِضَ Sakit
كَسِلَ Malas
نَشِطَ Rajin
فَرِحَ Gembira
حَزِنَ Sedih
شَبِعَ Kenyang
عَطِشَ Lapar
إِحْمَرَّ Memerah
إِسْوَدَّ Menghitam
إِخْضَرَّ Menghijau
إِبْيَضَّ Memutih
إِصْفَرَّ Menguning
إِزْرَقَّ Membiru
حَسُنَ Baik
شَجُعَ Berani
شَرُفَ Mulia
كَرُمَ Mulia
جَمُلَ Indah/baik
إنْكَسَرَ Pecah
إنْحَطَمَ Hancur
إنْطَلَقَ Pergi

 

Pengertian Fi’il Muta’addi

Fi’il ini kebalikan dari fi’il lazim dimana dalam kalimatnya masih membutuhkan objek. Jika kalimat itu tanpa objek maka belum disebut kalimat sempurna atau tidak dapat dipahami oleh pembacanya. 

Jika dalam bahasa Indonesia, contohnya saya berkata,”Affan telah memukul”. Kalimat ini tidak bisa dipahami dan belum masuk kalimat sempurna. Sebab, Affan belum diketahui memukul siapa, sehingga muncul berbagai pertanyaan. Lalu jumlah fi’liyah dalam fi’il muta’addi meliputi fi’il muta’addi, fa’il, dan maf’ul bih (obyek).

Contoh Kalimat Fi’il Muta’addi

Untuk lebih jelasnya, berikut beberapa contoh terkait fi’il muta’addi dalam bahasa Arab:

  • أَكَلَ مُحَمَّدٌ الرُّزَّ (Muhammad telah makan nasi)
  • يَقْرَأُ نَجِيْبٌ الْمَجَلَّةَ (Najib sedang membaca majalah)
  • يَطْبَخُ الطَّبَّاخُ الطَّعَامَ (Koki sedang memasak makanan)
  • قَبَضَ الشُّرْطِيُّ السَّارِقَ (Polisi telah menangkap pencuri).
  • ذَبَحَ الْمُسْلِمُ الْغَنَمَ (Muslim telah menyembelih kambing)

Sementara contoh fi’il muta’addi asli atau tanpa kalimat lengkap adalah:

  • أَكَلَ (Telah makan)
  • يَقْرَأُ (Sedang membaca)
  • يَطْبَخُ (Sedang memasak)
  • قَبَضَ (Telah menangkap)
  • ذَبَحَ (Telah menyembelih).

Macam-Macam Fi’il Muta’addi

Dalam ilmu nahwu, fi’il muta’addi terbagi menjadi tiga bagian, diantaranya sebagai berikut:

Muta’addi Dengan Satu Maf’ul

Berikut beberapa contoh fi’il yang membutuhkan satu maf’ul saja:

قَرَأَ عَارِفٌ الْقُرْآنَ

نَصَرَ أَحْمَدُ مَحْمُوْدًا

Muta’addi Dua Maf’ul

Untuk jenis muta’addi jenis ini masih terbagi menjadi beberapa bagian, diantaranya:

Maf’ulnya Dari Mubtada’ Dan Khabar

Jenis maf’ul ini terbagi menjadi beberapa fi’il, diantaranya:

ظَنَّ – حَسِبَ – خَالَ – زَعمَ – رَأَى – عَلِمَ – وَجَدَ – اتَّخَدَ – جَعَلَ

Contoh:

  • جَعَلَ أَحْمَدُ الْكِتَابَ صَغِيْرًا
  • ظَنَّ أَحْمَدُ مَحْمُوْدًا مُدَرِّسًا

Maf’ulnya Bukan Dari Khabar Dan Mubtada’ 

Berikut contoh beberapa fi’il yang membutuhkan dua maf’ul dan bukan dari mutada’ atau khabar:

  • عَلَّمَ اللهُ أَدَمَ الْأَسْمَاءَ
  • كَسَا أَحْمَدُ ابْنَهُ الثَّوْبَ

Muta’addi Dengan Tiga Maf’ul

Berikut contoh fiil yang masih membutuhkan tiga objek:

أَرَى – أَعْلَمَ – أَنْبَأَ – نَبَّأَ – أَخْبَرَ – خَبَّرَ – حَدَثَ

Contoh:

حَدَثْتُ مُحَمَّدًا إِيَّاكَ حَقِيْقًا (aku menceritakan tentang Muhammad kepadamu akan kebenaran).

Cara Merubah Fi’il Lazim Menjadi Muta’addi

Untuk mengubah fi’il lazim ke Muta’addi ini bisa dilakukan dengan dua cara dan berikut ulasannya:

Mengubah Wazan

Untuk cara bisa dengan mengubah wazan dan di bagian ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu:

Fi’il Mengikuti Wazan (أَفْعَلَ)

Berikut contoh dari wazan tersebut:

  • خَرَجَ – أَخْرَجَ
  • قَامَ – أَقَامَ
  • سَرَى – أَسْرَى

Dari semua contoh itu bisa dilihat beberapa perbedaan dari terjemahan fi’ilnya dan berikut ulasannya

  • Lafadz (خَرَجَ) artinya keluar, sementara (أَخْرَجَ) artinya mengeluarkan.
  • Lafadz (قَامَ) artinya berdiri, sementara (أَقَامَ) artinya mendirikan.
  • Lafadz (سَرَى) artinya jalan malam, sementara (أَسْرَى) artinya memperjalankan malam.

Fi’il mengikuti wazan (فَعَّلَ)

Contoh pada wazan ini diantaranya sebagai berikut :

  • حَسُنَ – حَسَّنَ
  • خَرَجَ – خَرَّجَ
  • كَرُمَ – كَرَّمَ

Penjelasan dari contoh itu adalah:

Lafadz  (حَسُنَ) artinya bagus, sementara (حَسَّنَ) artinya memperbagus.

Lafadz  (خَرَجَ) artinya keluar, sementara (خَرَّجَ) artinya mengeluarkan.

Lafadz  (كَرُمَ) artinya mulia, sementara (كَرَّمَ) artinya memuliakan.

Menambahkan Huruf Jar

Contohnya: 

  • kata (ذَهَبَ) artinya pergi 
  • kata (أَتَى) artinya datang. 

Bila diperhatikan, kedua kata tersebut disandingkan dengan menggunakan huruf ba’. Dengan demikian, maknanya menjadi muta’addi dan berikut contoh yang bisa dijadikan perbandingan:

  • ذَهَبَ أَحْمَدُ (Ahmad pergi)
  • ذَهَبَ أَحْمَدُ بِالْكِتَابِ (Ahmad menghilangkan buku)
  • أَتَى أَحْمَدُ (Ahmad datang)
  • أَتَى أَحْمَدُ بِالْكِتَابِ (Ahmad mendatangkan (membawa) buku)

Cara Menjadikan Fi’il Muta’addi Menjadi Lazim

Bagi kamu yang mau mengubah fi’il muta’addi menjadi fi’il lazim bisa dengan cara memasukkan wazan berikut:

 اِنْفَعَلَ – اِفْتَعَلَ – اِفْعَلَّ – اِفْعَالَّ – تَفَعَّلَ – اِفْعَوْعَلَ – اِفْعَوَّلَ

Bila sudah dimasuki wazan di atas maka kalimatnya akan berubah seperti di bawah ini:

  • جَمَعَ – اِجْتَمَعَ
  • كَسَّرَ – تَكَسَّرَ

Kata (جَمَعَ) artinya mengumpulkan, sementara (اِجْتَمَعَ) artinya berkumpul.

Kata (كَسَّرَ) artinya memecahkan, sementara (تَكَسَّرَ) artinya pecah.

Tambahan:

Dalam beberapa kalimat ada juga yang fi’il muta’addi yang bentuknya maf’ul atau berupa jar majrur. Bagi yang bingung, fi’il tersebut sama halnya dengan preposisi (kata kerjanya berpasangan dengan kata tertentu). Dalam bahasa Arab, ada juga fi’il yang berpasangan dengan jar, contohnya sebagai berikut:

يَحْتَاجُ إِلَى – أَمَنَ بِ – اِهْتَمَّ بِ – شَكَرَ لِ – صَلَّى عَلَى – رَغِبَ عَنْ – رَغِبَ فِيْ – توَكَّلَ عَلَى

Bila diperhatikan, fi’il itu selalu bersanding dengan huruf jar, namun huruf jarnya tidak diterjemahkan, berikut contohnya:

  • يَحْتَاجُ أَحْمَدُ إِلَى رَحْمَةَ اللهِ (Ahmad membutuhkan buku)
  • أَمَنْتُ بِاللهِ وَتَوَكَّلْتُ عَلَيْهِ (Aku beriman kepada Allah dan berserah diri kepadanya.)

Jadi contoh fi’il lazim dan fi’il muta’addi di atas bisa kamu pelajari secara mendetail agar bisa memahami secara sempurna. 

Selain itu, fi’il lazim juga bisa diubah ke fi’il muta’addi ataupun sebaliknya. Jika hal itu yang ingin dilakukan maka perlu mengetahui cara mengubahnya. Misalnya untuk fi’il lazim ke fi’il muta’addi dengan cara mengubah wazan dan menambahkan huruf jar. 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *