Badal Adalah, Syarat dan Macam-Macamnya

Istilah badal mungkin sudah sering didengar baik dalam ilmu nahwu atau saat orang melaksanakan haji. Namun, dalam hal ini yang akan diperjelas terkait badal yang umumnya digunakan di dalam ilmu nahwu. 

Badal adalah bagian dari tawabi’ atau kata keterangan yang tidak mengalami perubahan. Suatu kalimat disebut badal juga ada syarat yang harus terpenuhi. Selain itu, ada berbagai macam badal di dalam ilmu nahwu yang harus dipelajari bagi kamu ingin memperdalam bahasa Arab. 

Read More

Badal Adalah

Secara bahasa, badal adalah pengganti. Sementara di dalam kitab Alfiyah Ibnu Malik, badal adalah penyebutan akan hukum tertentu yang tidak menggunakan perantara huruf athaf. 

Lalu, menurut ilmu nahwu, badal merupakan kata yang mengikuti kata sebelumnya (tanpa perantara huruf apapun). Dengan demikian, badal adalah lafadz yang bisa mengganti kalimat secara langsung disebutkan. Selain itu, penggantinya juga tanpa perantara huruf athaf atau yang lainnya. 

Fungsi dari badal di dalam suatu kalimat adalah memperkuat atau memperjelas makna dari mubdal minhu. Selain itu, adanya badal juga sebagai batasan akan munculnya multi tafsir dari kalimat tersebut. 

Syarat Badal

Suatu kalimat bisa disebut badal jika memenuhi beberapa persyaratan, diantaranya sebagai berikut:

  • Kalimat itu harus mengikuti mubdal minhu dari segi i’rob saja. 
  • Di dalam badal juga harus ada mubdal minhu. 
  • Mubdal minhu pada kalimat tersebut bisa berupa fi’il atau isim. 

Macam-Macam Badal

Badan memiliki beberapa macam di dalam ilmu nahwu dan berikut ulasan selengkapnya:

Badal Syai Minasyai 

Jenis badal ini sering juga disebut badalul kulli minal kulli atau badalul muthobiq. Makna dari badal tersebut adalah badal yang sudah mubdal minhu atau sebagai pengganti dari itu sendiri. Contoh:

  • Al-imam, Ahmad adalah seorang ahli sholawat
  • Kami melihat suadaramu, Budi.

Kata “Budi” dan “Ahmad” disebut sebagai badal atau mubdal. Sementara “Al-imam” dan saudaramu adalah mubdal minhu. Contoh lainnya bisa diperhatikan pada tabel berikut:

 

Lafadz  Makna 
الْفَارُوْقُ عُمَرُ ذُوْ الْفَضْلِ الْمَعْرُوْفِ Al-faruq, umar memiliki keutamaan yang masyhur
زَيْدٌ أَخُوْكَ ذُوْ صَوْتٍ جَمِيْلٍ Zaid, saudaramu memiliki suara yang indah

 

Badal Ba’dli Minal Kul

Badal jenis ini adalah kalimat pengganti yang merupakan bagian dari mudhal minhunya. Bagian itu meliputi, sedikit, setengah, atau banyaknya. Selain itu, badal ini juga memiliki dhomir yang nantinya kembali ke mubdal minhu baik memakai cara idlofat atau lainnya. 

Contoh:

Aku telah memakan semangka itu, sepertiganya.

Kata sepertiga pada kalimat tersebut adalah pengganti atau badal dari sebagiannya saja. Dengan demikian, kata seperti tiga juga menandakan sebagai wakil dari sebagian mubdal minhunya. Contoh lain dari badal tersebut adalah:

 

Lafadz  Maknanya 
أَكَلْتُ السَّمَكَ نِصْفَهُ Aku makan ikan, setengahnya
قَرَأْتُ الْكِتَابَ ثُلُثَهُ Aku membaca buku, sepertiganya

 

Badal Isytimal

Secara keseluruhan, badal ini hampir sama dengan badal ba’dli minal kull. Perbedaannya hanya dari beberapa sisi misalnya substansi, kualitas, dan juga nilai yang terkandung di mubdal minhu. 

Selain itu, sisi substansi dan yang lainnya tidak bisa dipisahkan dari mubdal minhu. Dengan demikian, badla bukan mubdal minhu tetapi juga bukan bagian dari mubdal minhu dari sisi kuantitas. Contoh : 

نَفَعَنِيْ زَيْدٌ عِلْمُهُ (Zaid bermanfaat bagiku, yaitu ilmunya).

أَعْجَبَتْنِيْ الْجَارِيَةُ حَدِيْثُهَا (Budak membuatku kagum, yaitu perkataannya)

Kata “ilmuhu” merupakan badal dari kata “bagiku” dan itu termasuk badal isytimal. Dengan seperti ini maka tidak bisa dikatakan bahwa ilmuhu adalah bagiku sendiri. Selain itu, ilmuhu juga merupakan bagian dari bagiku secara kuantitas. Namun, diantara kedua kata itu ada keterkaitan baik secara kuantitas, kualitas atau substansinya. 

Begitu juga dengan contoh kedua, dimana kagum merupakan badal dan perkataannya adalah mubdal isytimal. Keduanya juga bukan bagian dari satu dan yang lain, namun, ada keterikatan baik secara substansi, kualitas dan yang lainnya. 

Badal Ghalat

Badal ghalat adalah koreksi atau ralat dari mubdal minhu pada kalimat tersebut. Hanya saja, badal ini tergolong jarang ditemukan contohnya yang dalam bentuk tulisan dan tidak ada di dalam Al-qur’an. 

Sebab, badal ini hanya terjadi ketika ada komunikasi antara dua orang atau lebih dan berupa pengucapan saja. Untuk lebih jelasnya, berikut beberapa contoh dari badal tersebut:

“Saya meminum susu, (eh) teh. 

Jika diperhatikan dari kalimat tersebut, pembicara ingin menyampaikan bahwa yang diinginkan teh bukan susu. Sehingga, kata susu hanya pengucapan yang salah saja. Sedangkan, teh adalah mubdal minhu atau sering juga disebut sebagai badal ghalat. 

Hukum atau Ketentuan Badal

Ada beberapa ketentuan atau hukum dalam badal ini, diantaranya sebagai berikut:

I’rab Rafa’ Nashob dan Khafad 

Sebagai bagian dari tawabi’, badal juga harus sesuai dengan keadaan i’rab dan perlu sesuai dengan matbu’nya. Selain itu, badan dan mubdal minhu juga harus sesuai dengan nashab, rafa’ dan khafad pada kalimatnya. 

Nakirah dan Ma’rifat

Dalam suatu kalimat, mubdal ataupun badal tidak harus keduanya makrifat (isim yang sudah ditentukan. Selain itu, keduanya juga tidak harus nakirah atau isim yang masih terbilang umum. 

Jenis Muannats dan Mudzakkar

Dalam penentuan muannats ataupun mudzakkar, diantara semua badal ada perbedaan. Khusus untuk badal kul min kul, antara badal dan mubdalnya harus ada keseuaian antara muannats dan mudzakarnya. Sedangkan, jenis badal yang lain tidak diharuskan demikian. 

Jumlah Individu Mufrad, Jamak dan Mutsana

Khusus pada badal muthabiq, antara badan dan mubdalnya harus sesuai termasuk dalam hal bentuknya. Selain itu, keduanya juga perlu dibuat dalam bentuk jamak atau tatsniyah. 

Namun, keduanya juga boleh ada perbedaan jika tidak memungkinkan. Sementara, jenis badal yang lain lebih bersifat optional atau antara mubdal atau badalnya tidak harus sesuai dari sisi bentuknya. 

Perbedaan Badal dan ‘Athaf Bayan

Keduanya sering kali disamakan, tetapi kenyataannya, ada perbedaan. Secara sederhana, setiap ‘athaf bayan bisa juga disebut sebagai badal kulli minhal kulli. Sementara, badan yang lain memang berbeda dalam beberapa bentuknya. 

Selain itu, perbedaan antara keduanya adalah fokus pembicaraan. Untuk badal, fokusnya lebih kepada mubdal atau kata yang ada setelah mubdal minhu. Sedangkan ‘athaf lebih banyak ke ma’thuf alaih atau kata yang pertama. 

Contoh:

Saya telah memuliakan Abu Hafsin, Umar.

Contoh kalimat di atas bisa juga disebut sebagai ‘athaf bayan. Disebut athaf bayan karena ada kata Abu Hafsin. Sementara itu, kata Umar yang disebutkan pada kalimat itu adalah badal atau maksud dari pembicaraan itu. 

Jadi badal adalah lafadz yang menjadi pengganti kalimat secara langsung. Selain itu, proses penggantian kalimatnya juga tidak menggunakan perantara huruf apapun termasuk huruf athaf. 

Selain itu, badal juga terdiri dari empat bagian mulai dari halat, isytimal, ba’dli minal kul dan yang lainnya. Semua badal ini memiliki fungsi sebagai kalimat yang menjelaskan atau memperkuat makna dari mubdal minhu. Selain itu, adanya badal juga sebagai suatu cara agar kalimat itu tidak multi tafsir. 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *